Pengumuman

Bila tulisan yang Anda cari tidak ada di blog ini, silakan kunjungi hurahura.wordpress.com

Minggu, 22 Maret 2009

Situs Kedulan Terendam

Views

Harus Segera Dibuatkan Gorong-gorong

Sleman, Kompas - Situs Candi Kedulan yang terletak di Dusun Kedulan, Desa Tirtomartani, Kalasan, DI Yogyakarta, terendam air hingga setinggi 2,6 meter. Kejadian ini selalu terulang sejak situs ini ditemukan pada 1993. Kondisi yang terus berulang tersebut dikhawatirkan akan merusak batu situs.

Air yang merendam situs tersebut berasal dari air tanah. Air itu menggenangi candi induk, tiga perwaracandi pelengkap serta pagar halaman. Sampai saat ini belum ada gorong-gorong saluran air di sekeliling situs.

Kondisi terendamnya situs candi tersebut kini bertambah parah karena, Sejak 31 Januari 2006 air dari dalam tanah di sekitar candi mulai menyembur ke permukaan, ujar anggota staf teknis Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala DI Yogyakarta di Candi Kedulan, Hariyono, Minggu (12/2).

Pada hari itu genangan air di sekitar candi mencapai sekitar 20 sentimeter. Saat ini penambahan ketinggian air sekitar 10 sentimeter per hari, ujar Hariyono.

Dia menambahkan, genangan air tersebut bukan disebabkan hujan yang turun sepanjang musim hujan ini. Daerah tempat candi itu berada jarang terguyur hujan deras.

Air yang merendam situs, menurut Hariyono, biasanya akan surut sendiri pada Juni atau Juli karena debit air tanah mulai menurun.

Situs Candi Kedulan diperkirakan dibangun pada 791 Saka atau tahun 869 Masehi, sesuai dengan dua prasasti yang ditemukan tidak jauh dari candi.

Pihak BP3 masih melakukan susun coba bangunan candi, sebelum pemugaran candi dilakukan. Sementara ini BP3 menggunakan nama Candi Kedulan karena belum ada prasasti yang menunjukkan apa sebenarnya nama candi tersebut.


Dibangun gorong-gorong

Genangan air yang berulang setiap tahun itu sebenarnya bisa diatasi antara lain dengan membangun gorong-gorong.

Kalau tidak segera dibangun gorong-gorong, air tanah yang mengandung belerang itu bisa merusak batu candi karena menyebabkan penggaraman pada permukaan batu.

Meskipun BP3 sudah mengajukan permintaan dana pembangunan gorong-gorong, sampai saat ini belum ada bantuan dana yang turun. Dana yang dibutuhkan sekitar Rp 700 juta.

Kepala BP3 DI Yogyakarta Agus Waluyo mengatakan, pembuatan gorong-gorong itu tidak mudah karena harus ada persiapan pembuatan jalur saluran air dari lokasi candi menuju Sungai Wereng yang terletak di sebelah barat candi.

Kami sudah memikirkan pembuatan gorong-gorong itu, tetapi pembuatannya memerlukan dana besar. Selain itu, tanah di sekitar lokasi candi juga perlu dipersiapkan untuk membuat gorong-gorong itu, kata Agus.

Hariyono mengatakan, gorong-gorong yang diperlukan sepanjang 220 meter. Gorong-gorong dinilai akan lebih sesuai dengan kondisi setempat. Penggunaan pompa air untuk mengeluarkan genangan air dari candi diperkirakan tidak akan efektif. (ART)

(Kompas, Senin, 13 Februari 2006)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BUKU-BUKU JURNALISTIK


Kontak Saya

NAMA ANDA :
EMAIL ANDA :
PERIHAL :
PESAN :
MASUKKAN KODE BERIKUT :